Friday, November 27, 2009
Thursday, November 26, 2009
Pengalaman Seorang Muallaf
Kita sering mendengar perkataan 'MUALLAF'. Namun pernahkah kita mendalaminya, menyusuri pengalaman hidup seorang muallaf? Mungkin di antara mereka sudah tidak diterima oleh keluarga dan mungkin juga ada yang masih diterima oleh ahli keluarga mereka bersama agama beru mereka.Di sini, saya memaparkan kisah seorang muallaf.
Dia mendapati ajaran agama terdahulu telah banyak menyimpang, terutama yang berkaitan dengan konsep ketuhanan. Ia mendapat ijazah di bidang Teologi Kristian. Namun, pengetahuan Kristiannya yang begitu mendalam, menjadikan perempuan separuh baya ini mencintai Islam.
Rushbrook yang berganti nama Ruqaiyyah Waris Maqsood setelah memeluk Islam, merupakan salah satu penulis buku-buku Islam paling produktif. Puluhan buku berkenaan dengan Islam telah ditulis oleh wanita kelahiran London, Inggris, tahun 1942 ini. Buku-bukunya termasuk best seller dan menjadi referensi serta rujukan di berbagai negara.
Ruqaiyyah lahir dan dibesarkan dalam lingkungan Kristian Protestan. Nama asalnya ialah Rosalyn Rushbrook. Dia memperoleh ijazah dalam bidang Teologi Kristian dari Universiti Hull, Inggeris, tahun 1963, dan master bidang pendidikan dari tempat yang sama pada tahun 1964. Selama hampir 32 tahun, dia mengelola program study ilmu-ilmu keagamaan di berbagai sekolah dan perguruan tinggi di Inggris. Dia juga sempat menjadi sebagai ketua Study Agama di William Gee High School, Hull, Inggeris.
Pengetahuan Kristiannya yang begitu mendalam, membuatnya menulis beberapa buah buku tentang Kristian. Namun, siapa yang dapat menyangka jika pengetahuannya yang begitu mendalam tentang Kristen pulalah yang menyadarkannya. Dia mendapati ajaran Kristian yang diyakininya selama ini telah banyak menyimpang, terutama yang berkaitan dengan konsep ketuhanan.
Dengan pengetahuan yang dimilikinya, Ruqaiyyah bergerak atas inisiatif sendiri mencari kebenaran berdasarkan kajian-kajian ilmiahnya, termasuk mempelajari Alkitab. Namun, akhirnya dia meninggalkan agamanya itu setelah bergulat bertahun-tahun dalam pencarian atas pertanyaan-pertanyaannya tentang konsep teologi Trinitas. Dia tak menemukan apa-apa. Akhirnya tahun 1986, di saat usianya menginjak 44 tahun, Ruqaiyyah memutuskan untuk memeluk Islam.
Ruqaiyyah memeluk Islam murni berdasarkan latar belakang pengetahuannya dan kajian mendalam tentang ajaran ketuhanan, baik dalam Islam dan Kristian. Seperti kebanyakan muallaf lainnya, dia menyebut dirinya telah ‘kembali’ dengan menjadi Muslim. Kini, dia memperjuangkan Islam lewat tulisan dan buku-bukunya.
Dalam wawancara dengan sebuah media, dia ditanya perihal konsep Islam tentang Nabi Isa yang dalam ajaran Kristen disebut Yesus. "Dinegara Barat, ada ajaran ilmu etika berinti pada cinta dan kasih Tuhan dan tolong-menolong sesama manusia. Itu semua diajarkan juga oleh semua nabi, termasuk Nabi Muhammad SAW. Kami orang Islam juga me yakini Nabi Isa sebagai salah satu nabi yang diutus Allah," kata Ruqaiyyah.
Keputusan Ruqaiyyah untuk berpindah keyakinan membawa konsekuensi pada kehidupan rumah tangganya. Ia memutuskan untuk mengakhiri biduk perkawinannya dengan penyair Inggris George Morris Kendrick yang telah dijalaninya sejak 1964. Dari perkawinannya dengan George, mereka memiliki dua orang anak, Daniel George lahir 1968 dan Frances Elisabeth Eva lahir 1969. Kemudian di tahun 1990, dia menikah lagi dengan pria keturunan Pakistan, Waris Ali Maqsood.
Berdakwah menerusi tulisan Selepas hijrah ke Islam, tidak membuat Ruqaiyyah berhenti menulis. Justru sebaliknya, ia menjadi semakin produktif. Lebih dari 30 buku mengenai Islam telah ditulisnya. Saat ini dia memiliki sembilan buah buku yang masih dalam proses penerbitan. Dia juga menulis berbagai artikel di majalah mahupun Al-Quran yang berkaitan dengan Islam dan Muslim.
"Saat ini Islam dianggap sebagai agama bermasalah. Sangat tidak adil. Kerana itu, saya berupaya menulis untuk memperbanyak literatur-literatur Islam. Harap an saya, agar melalui tulisan-tulisan itu, dapat membantu memperbaiki atmosfer yang kurang berpihak ke Islam," cetusnya.
Buku-buku mengenai Islam yang ditulisnya cukup beragam. Tidak hanya buku-buku kategori ‘berat’, seperti buku mengenai sejarah Islam dan isu seputar Muslimah, tetapi juga buku-buku tentang bimbingan konseling bagi remaja Islam. Juga ada beberapa buku saku, antara lain A Guide for Visitors to Mosques, a Marriage Gui dance Booklet, Muslim Women’s Helpline.
Saya sangat tertarik menggeluti sejarah Islam, terutama tentang kehidupan wanita-wanita di sekitar Nabi Muhammad. Saya acapkali mengcounter kampanye anti-Islam yang mendiskreditkan wanita Muslim.
Oleh komunitas Muslim di Inggeris, ia juga diminta untuk menyusun buku teks mengenai Islam. Buku-buku teks hasil karyanya ini dipakai secara luas di Inggris selama hampir 20 tahun. Buku-buku itu dipakai oleh kalangan pribadi, mualaf, dan pelajar-pelajar sekolah umum dan madrasah di Inggeris dan beberapa negara lainnya.
Ia juga membantu mengembangkan silibus bagi pelajar sekolah agama, bekerja sama dengan dinas pendidikan setempat. Silibusnya tergolong unik, dibuat khusus agar pelajar mandiri. Jadi, tanpa guru atau fasilitas tetap bisa jalan. Silabusnya dirancang untuk pelajar sekolah dasar hingga perguruan ting gi. Menariknya lagi, buku itu bisa dipakai untuk pendidikan formal, nonformal, misalnya di rumah, bahkan juga di penjara. Ruqaiyyah kini juga aktif menjadi tutor jarak jauh (distance learning) untuk Asosiasi Peneliti Muslim (AMR) adalah aktivitas lain nya.
Aktiviti mengajarnya juga padat. Banyak negara telah disambanginya, di antaranya AS, Kanada, Denmark, Swedia, Finlandia, Irlandia, dan Singapura. Ruqaiyyah juga mengajar di beberapa universitas yang ada di Inggris, seperti Oxford, Cambridge, Glasgow, dan Manchester. Juga, mengajar di School of Oriental and Arabic Studies di London.
Ruqaiyyah menerima Muhammad Iqbal Award tahun 2001 atas kreativitas dan jasanya, dalam mengembang kan metodologi pengajaran Islam. Dialah muslim pertama Inggris yang pernah menerima anugerah bergengsi tersebut. Tak hanya itu, pada Maret 2004 Ruqaiyyah terpilih sebagai salah satu dari 100 wanita berprestasi di dunia. Dalam ajang pemilihan Daily Mails Real Women of Achievement, Ruqaiyyah Waris Maqsood termasuk satu dari tujuh orang wanita berprestasi dalam kategori keagamaan. dia/taq/berbagai sumber
Nama Muslim : Ruqaiyyah Waris Maqsood
Nama asli : Rosalyn Rushbrook
Lahir : 1942
Masuk Islam : 1986
Suami pertama: George Morris Kendrick (Cerai)
Anak : Daniel George dan Frances Elisabeth Eva
Suami Kedua : Waris Ali Maqsood
Pekerjaan : Penulis
PENGHARGAAN:
1. News Awards for Excellence (2001)
2. Muhammad Iqbal Award (2004)
3. Salah satu dari tujuh pemenang Daily Mail’s Real Women of Achievement.
4. Salah satu dari empat penerima Perdamaian Global dan Kesatuan Lifetime Achievement Award (2008).
Dia mendapati ajaran agama terdahulu telah banyak menyimpang, terutama yang berkaitan dengan konsep ketuhanan. Ia mendapat ijazah di bidang Teologi Kristian. Namun, pengetahuan Kristiannya yang begitu mendalam, menjadikan perempuan separuh baya ini mencintai Islam.
Rushbrook yang berganti nama Ruqaiyyah Waris Maqsood setelah memeluk Islam, merupakan salah satu penulis buku-buku Islam paling produktif. Puluhan buku berkenaan dengan Islam telah ditulis oleh wanita kelahiran London, Inggris, tahun 1942 ini. Buku-bukunya termasuk best seller dan menjadi referensi serta rujukan di berbagai negara.
Ruqaiyyah lahir dan dibesarkan dalam lingkungan Kristian Protestan. Nama asalnya ialah Rosalyn Rushbrook. Dia memperoleh ijazah dalam bidang Teologi Kristian dari Universiti Hull, Inggeris, tahun 1963, dan master bidang pendidikan dari tempat yang sama pada tahun 1964. Selama hampir 32 tahun, dia mengelola program study ilmu-ilmu keagamaan di berbagai sekolah dan perguruan tinggi di Inggris. Dia juga sempat menjadi sebagai ketua Study Agama di William Gee High School, Hull, Inggeris.
Pengetahuan Kristiannya yang begitu mendalam, membuatnya menulis beberapa buah buku tentang Kristian. Namun, siapa yang dapat menyangka jika pengetahuannya yang begitu mendalam tentang Kristen pulalah yang menyadarkannya. Dia mendapati ajaran Kristian yang diyakininya selama ini telah banyak menyimpang, terutama yang berkaitan dengan konsep ketuhanan.
Dengan pengetahuan yang dimilikinya, Ruqaiyyah bergerak atas inisiatif sendiri mencari kebenaran berdasarkan kajian-kajian ilmiahnya, termasuk mempelajari Alkitab. Namun, akhirnya dia meninggalkan agamanya itu setelah bergulat bertahun-tahun dalam pencarian atas pertanyaan-pertanyaannya tentang konsep teologi Trinitas. Dia tak menemukan apa-apa. Akhirnya tahun 1986, di saat usianya menginjak 44 tahun, Ruqaiyyah memutuskan untuk memeluk Islam.
Ruqaiyyah memeluk Islam murni berdasarkan latar belakang pengetahuannya dan kajian mendalam tentang ajaran ketuhanan, baik dalam Islam dan Kristian. Seperti kebanyakan muallaf lainnya, dia menyebut dirinya telah ‘kembali’ dengan menjadi Muslim. Kini, dia memperjuangkan Islam lewat tulisan dan buku-bukunya.
Dalam wawancara dengan sebuah media, dia ditanya perihal konsep Islam tentang Nabi Isa yang dalam ajaran Kristen disebut Yesus. "Dinegara Barat, ada ajaran ilmu etika berinti pada cinta dan kasih Tuhan dan tolong-menolong sesama manusia. Itu semua diajarkan juga oleh semua nabi, termasuk Nabi Muhammad SAW. Kami orang Islam juga me yakini Nabi Isa sebagai salah satu nabi yang diutus Allah," kata Ruqaiyyah.
Keputusan Ruqaiyyah untuk berpindah keyakinan membawa konsekuensi pada kehidupan rumah tangganya. Ia memutuskan untuk mengakhiri biduk perkawinannya dengan penyair Inggris George Morris Kendrick yang telah dijalaninya sejak 1964. Dari perkawinannya dengan George, mereka memiliki dua orang anak, Daniel George lahir 1968 dan Frances Elisabeth Eva lahir 1969. Kemudian di tahun 1990, dia menikah lagi dengan pria keturunan Pakistan, Waris Ali Maqsood.
Berdakwah menerusi tulisan Selepas hijrah ke Islam, tidak membuat Ruqaiyyah berhenti menulis. Justru sebaliknya, ia menjadi semakin produktif. Lebih dari 30 buku mengenai Islam telah ditulisnya. Saat ini dia memiliki sembilan buah buku yang masih dalam proses penerbitan. Dia juga menulis berbagai artikel di majalah mahupun Al-Quran yang berkaitan dengan Islam dan Muslim.
"Saat ini Islam dianggap sebagai agama bermasalah. Sangat tidak adil. Kerana itu, saya berupaya menulis untuk memperbanyak literatur-literatur Islam. Harap an saya, agar melalui tulisan-tulisan itu, dapat membantu memperbaiki atmosfer yang kurang berpihak ke Islam," cetusnya.
Buku-buku mengenai Islam yang ditulisnya cukup beragam. Tidak hanya buku-buku kategori ‘berat’, seperti buku mengenai sejarah Islam dan isu seputar Muslimah, tetapi juga buku-buku tentang bimbingan konseling bagi remaja Islam. Juga ada beberapa buku saku, antara lain A Guide for Visitors to Mosques, a Marriage Gui dance Booklet, Muslim Women’s Helpline.
Saya sangat tertarik menggeluti sejarah Islam, terutama tentang kehidupan wanita-wanita di sekitar Nabi Muhammad. Saya acapkali mengcounter kampanye anti-Islam yang mendiskreditkan wanita Muslim.
Oleh komunitas Muslim di Inggeris, ia juga diminta untuk menyusun buku teks mengenai Islam. Buku-buku teks hasil karyanya ini dipakai secara luas di Inggris selama hampir 20 tahun. Buku-buku itu dipakai oleh kalangan pribadi, mualaf, dan pelajar-pelajar sekolah umum dan madrasah di Inggeris dan beberapa negara lainnya.
Ia juga membantu mengembangkan silibus bagi pelajar sekolah agama, bekerja sama dengan dinas pendidikan setempat. Silibusnya tergolong unik, dibuat khusus agar pelajar mandiri. Jadi, tanpa guru atau fasilitas tetap bisa jalan. Silabusnya dirancang untuk pelajar sekolah dasar hingga perguruan ting gi. Menariknya lagi, buku itu bisa dipakai untuk pendidikan formal, nonformal, misalnya di rumah, bahkan juga di penjara. Ruqaiyyah kini juga aktif menjadi tutor jarak jauh (distance learning) untuk Asosiasi Peneliti Muslim (AMR) adalah aktivitas lain nya.
Aktiviti mengajarnya juga padat. Banyak negara telah disambanginya, di antaranya AS, Kanada, Denmark, Swedia, Finlandia, Irlandia, dan Singapura. Ruqaiyyah juga mengajar di beberapa universitas yang ada di Inggris, seperti Oxford, Cambridge, Glasgow, dan Manchester. Juga, mengajar di School of Oriental and Arabic Studies di London.
Ruqaiyyah menerima Muhammad Iqbal Award tahun 2001 atas kreativitas dan jasanya, dalam mengembang kan metodologi pengajaran Islam. Dialah muslim pertama Inggris yang pernah menerima anugerah bergengsi tersebut. Tak hanya itu, pada Maret 2004 Ruqaiyyah terpilih sebagai salah satu dari 100 wanita berprestasi di dunia. Dalam ajang pemilihan Daily Mails Real Women of Achievement, Ruqaiyyah Waris Maqsood termasuk satu dari tujuh orang wanita berprestasi dalam kategori keagamaan. dia/taq/berbagai sumber
Nama Muslim : Ruqaiyyah Waris Maqsood
Nama asli : Rosalyn Rushbrook
Lahir : 1942
Masuk Islam : 1986
Suami pertama: George Morris Kendrick (Cerai)
Anak : Daniel George dan Frances Elisabeth Eva
Suami Kedua : Waris Ali Maqsood
Pekerjaan : Penulis
PENGHARGAAN:
1. News Awards for Excellence (2001)
2. Muhammad Iqbal Award (2004)
3. Salah satu dari tujuh pemenang Daily Mail’s Real Women of Achievement.
4. Salah satu dari empat penerima Perdamaian Global dan Kesatuan Lifetime Achievement Award (2008).
Wednesday, November 25, 2009
Adakah anda mentaati ibu bapa anda?
Dewasa ini, kita sering mendengar kisah anak yang derhaka kepada ibu bapa mereka.
Namun ramai anak yang tidak mengaku apabila dituduh menderhaka kepada ibu bapa. Tetapi, siapa yang dapat menafikan kebenaran ayat Allah dan hadis Rasulullah SAW yang menyimpulkan bahawa termasuk dosa besar yang kedua selepas syirik ialah apabila seseorang melupakan tanggungjawab menjaga kedua orang tua.
Allah SWT berfirman yang bermaksud: "Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapamu dengan sebaik-baiknya, apabila salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu." – (Surah Al-Isra' ayat 23)
Rasulullah SAW lebih jelas menegaskan mengenai dosa besar ini di dalam sabdanya yang bermaksud:" Mahukah kamu aku khabarkan tentang dosa besar? Kami (sahabat menjawab: Ya, tentu wahai Rasulullah. Beliau bersabda: Ada tiga, iaitu menyekutukan Allah, derhaka kepada kedua ibu bapa dan ucapan dusta dan kesaksian dusta, Baginda mengulanginya berkali-kali sehingga kami berkata mudah-mudahan baginda diam." – (Hadis riwayat Imam Al-Bukhari)....
Semua anak mengaku mereka sudah memenuhi hak kedua ibu bapanya walaupun hati tak merindu, jauh sekali khuatir, sedih dan pilu mengenang keuzuran kedua orang, pemegang kunci syurga mereka di akhirat nanti. Bahkan anak dunia itu seolah-olah tidak mahukan akhirat.
Lantas mereka lalai dan lupa akibat mengejar cita-cita dunia sehingga tak tersisa sedikit pun ruang untuk ayah dan ibu di dalam hati. Hati yang sentiasa sibuk, memberi kesan pada wajah mereka yang kian suram apabila berdepan dengan ayah dan ibu. Mereka lebih rela menjadi tanda-tanda dekatnya kiamat dengan berlaku derhaka daripada harus menanggung beban hidup bersama orang tua.
Pelbagai alasan dicipta untuk menghalalkan keuzuran mereka daripada menjaga ibu bapa, tetapi di sudut hati nurani anak-anak manusia siapakah kiranya yang boleh melepaskan diri daripada kenangan kasih sayang ibu bapa ketika kecilnya.....
Mereka juga berselindung di sebalik amal salih yang lain, sebahagiannya ahli tahajjud, setia membaca al-Quran, ahli masjid, istiqamah mengerjakan haji dan umrah, ahli sedekah dan puasa. Tetapi, mereka membuat hati ibu bapa menangis, jiwa mereka terdera dan impian hari tua yang indah bagi mereka hancur berkecai.
Padahal keutamaan berkhidmat kepada orang tua melebihi pahala jihad fisabilillah seperti sabda Rasulullah SAW yang bermaksud: Daripada Abu Abdul Rahman Abdullah bin Mas'ud beliau berkata: "Saya bertanya kepada Nabi SAW. "Amalan apakah yang paling disukai oleh Allah SWT? Baginda bersabda: Solat pada waktunya, saya bertanya lagi: Kemudian apa lagi? Baginda bersabda: Berbuat baik kepada kedua orang tua. Saya bertanya: Kemudian apa lagi? Baginda bersabda: Berjihad di jalan Allah." – (Hadis riwayat al-Bukhari dan Muslim)....
Ironinya mereka mengejar pahala ibadat sunat tetapi yang wajib ditinggalkan. Kewajipan berkhidmat kepada ibu bapa mereka dianggap bukan ibadat melainkan hanya adat kehidupan manusia. Maka jika mereka lalai mengingati kedua-duanya, tidak ada kekesalan di dalam hati, tidak rasa berdosa dan bermaksiat kepada Allah SWT.
Sungguh penyelewengan yang tidak disedari, melainkan apabila keduanya kembali ke rahmatullah. Lalu anak-anak itu secara tabienya menjadi ibu dan bapa generasi baru. Dia merasai sakit menjaga dan mendidik anak seperti ibu bapa dulu. Akhirnya dia sedar betapa seksa diderhaka dan dibuang bagaikan al-Quran usang.
Bukan hanya ibu bapa yang terguris hati, Rasulullah SAW pun pernah menitiskan air mata mendengar pengaduan seorang lelaki tua mengenai anaknya yang menderhaka. "Wahai Rasulullah, anakku telah aku didik tetapi setelah dewasa dia menzalimiku. Lelaki itu kemudian menyatakan kesedihannya dengan untaian syair yang memilukan:
"Ketika engkau masih kecil, tangan ini yang memberimu makan.
"Engkau minum juga aku yang tuangkan. Apabila dirimu sakit, aku berjaga semalaman.
"Kerana sakitmu itu aku mengeluh kerisauan. Tetapi, di saat engkau dewasa dan mencapai tujuan.
"Kulihat pada dirimu apa yang tak ku harapkan. Kau balas aku dengan kekasaran.
"Seakan-akan nikmat dan anugerah engkau yang berikan."
Mendengar bait-bait syair lelaki tua itu, berlinanganlah air mata Rasulullah SAW seraya bersabda yang bermaksud: Kamu dan hartamu milik ayahmu." – (Ditakhrij oleh Ibnu Majah 2357, Imam Ahmad dalam al-Musnad 6883, Ibnu Hibban dalam sahihnya 409, 4182. Al-Baihaqi dalam al-Sunan 16054)
Pelbagai takrifan diberi ulama mengenai tanda-tanda derhaka kepada orang tua seperti memutuskan hubungan dengan tidak mahu menziarahi mereka, tidak memberi nafkah, tidak memenuhi hak-hak mereka dan tidak mentaati mereka pada hal yang bukan bermaksiat kepada Allah SWT.
Sesungguhnya kasih sayang yang paling ikhlas tanpa syarat hanyalah kasih sayang ibu bapa. Anak yang salih dituntut untuk membalas jasa mereka dengan adab dan akhlak yang baik. Kadang-kadang seulas senyuman dan kata-kata yang lembut lebih berharga daripada wang ringgit serta barangan berharga.
Namun tidak dinafi juga kepentingan hadiah sebagai pengikat jiwa. Sikap mementingkan diri sehingga membiarkan ibu bapa hidup susah di sebalik kemewahan seorang anak sememangnya menunjukkan sifat tidak mengenang budi. Jika boleh dihitung berapa juta ringgit yang mesti dibayar, sudah tentu jasa ibu bapa tak akan terbayar dengan sebarang jenis mata wang pun di dunia ini.
Namun ramai anak yang tidak mengaku apabila dituduh menderhaka kepada ibu bapa. Tetapi, siapa yang dapat menafikan kebenaran ayat Allah dan hadis Rasulullah SAW yang menyimpulkan bahawa termasuk dosa besar yang kedua selepas syirik ialah apabila seseorang melupakan tanggungjawab menjaga kedua orang tua.
Allah SWT berfirman yang bermaksud: "Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapamu dengan sebaik-baiknya, apabila salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu." – (Surah Al-Isra' ayat 23)
Rasulullah SAW lebih jelas menegaskan mengenai dosa besar ini di dalam sabdanya yang bermaksud:" Mahukah kamu aku khabarkan tentang dosa besar? Kami (sahabat menjawab: Ya, tentu wahai Rasulullah. Beliau bersabda: Ada tiga, iaitu menyekutukan Allah, derhaka kepada kedua ibu bapa dan ucapan dusta dan kesaksian dusta, Baginda mengulanginya berkali-kali sehingga kami berkata mudah-mudahan baginda diam." – (Hadis riwayat Imam Al-Bukhari)....
Semua anak mengaku mereka sudah memenuhi hak kedua ibu bapanya walaupun hati tak merindu, jauh sekali khuatir, sedih dan pilu mengenang keuzuran kedua orang, pemegang kunci syurga mereka di akhirat nanti. Bahkan anak dunia itu seolah-olah tidak mahukan akhirat.
Lantas mereka lalai dan lupa akibat mengejar cita-cita dunia sehingga tak tersisa sedikit pun ruang untuk ayah dan ibu di dalam hati. Hati yang sentiasa sibuk, memberi kesan pada wajah mereka yang kian suram apabila berdepan dengan ayah dan ibu. Mereka lebih rela menjadi tanda-tanda dekatnya kiamat dengan berlaku derhaka daripada harus menanggung beban hidup bersama orang tua.
Pelbagai alasan dicipta untuk menghalalkan keuzuran mereka daripada menjaga ibu bapa, tetapi di sudut hati nurani anak-anak manusia siapakah kiranya yang boleh melepaskan diri daripada kenangan kasih sayang ibu bapa ketika kecilnya.....
Mereka juga berselindung di sebalik amal salih yang lain, sebahagiannya ahli tahajjud, setia membaca al-Quran, ahli masjid, istiqamah mengerjakan haji dan umrah, ahli sedekah dan puasa. Tetapi, mereka membuat hati ibu bapa menangis, jiwa mereka terdera dan impian hari tua yang indah bagi mereka hancur berkecai.
Padahal keutamaan berkhidmat kepada orang tua melebihi pahala jihad fisabilillah seperti sabda Rasulullah SAW yang bermaksud: Daripada Abu Abdul Rahman Abdullah bin Mas'ud beliau berkata: "Saya bertanya kepada Nabi SAW. "Amalan apakah yang paling disukai oleh Allah SWT? Baginda bersabda: Solat pada waktunya, saya bertanya lagi: Kemudian apa lagi? Baginda bersabda: Berbuat baik kepada kedua orang tua. Saya bertanya: Kemudian apa lagi? Baginda bersabda: Berjihad di jalan Allah." – (Hadis riwayat al-Bukhari dan Muslim)....
Ironinya mereka mengejar pahala ibadat sunat tetapi yang wajib ditinggalkan. Kewajipan berkhidmat kepada ibu bapa mereka dianggap bukan ibadat melainkan hanya adat kehidupan manusia. Maka jika mereka lalai mengingati kedua-duanya, tidak ada kekesalan di dalam hati, tidak rasa berdosa dan bermaksiat kepada Allah SWT.
Sungguh penyelewengan yang tidak disedari, melainkan apabila keduanya kembali ke rahmatullah. Lalu anak-anak itu secara tabienya menjadi ibu dan bapa generasi baru. Dia merasai sakit menjaga dan mendidik anak seperti ibu bapa dulu. Akhirnya dia sedar betapa seksa diderhaka dan dibuang bagaikan al-Quran usang.
Bukan hanya ibu bapa yang terguris hati, Rasulullah SAW pun pernah menitiskan air mata mendengar pengaduan seorang lelaki tua mengenai anaknya yang menderhaka. "Wahai Rasulullah, anakku telah aku didik tetapi setelah dewasa dia menzalimiku. Lelaki itu kemudian menyatakan kesedihannya dengan untaian syair yang memilukan:
"Ketika engkau masih kecil, tangan ini yang memberimu makan.
"Engkau minum juga aku yang tuangkan. Apabila dirimu sakit, aku berjaga semalaman.
"Kerana sakitmu itu aku mengeluh kerisauan. Tetapi, di saat engkau dewasa dan mencapai tujuan.
"Kulihat pada dirimu apa yang tak ku harapkan. Kau balas aku dengan kekasaran.
"Seakan-akan nikmat dan anugerah engkau yang berikan."
Mendengar bait-bait syair lelaki tua itu, berlinanganlah air mata Rasulullah SAW seraya bersabda yang bermaksud: Kamu dan hartamu milik ayahmu." – (Ditakhrij oleh Ibnu Majah 2357, Imam Ahmad dalam al-Musnad 6883, Ibnu Hibban dalam sahihnya 409, 4182. Al-Baihaqi dalam al-Sunan 16054)
Pelbagai takrifan diberi ulama mengenai tanda-tanda derhaka kepada orang tua seperti memutuskan hubungan dengan tidak mahu menziarahi mereka, tidak memberi nafkah, tidak memenuhi hak-hak mereka dan tidak mentaati mereka pada hal yang bukan bermaksiat kepada Allah SWT.
Sesungguhnya kasih sayang yang paling ikhlas tanpa syarat hanyalah kasih sayang ibu bapa. Anak yang salih dituntut untuk membalas jasa mereka dengan adab dan akhlak yang baik. Kadang-kadang seulas senyuman dan kata-kata yang lembut lebih berharga daripada wang ringgit serta barangan berharga.
Namun tidak dinafi juga kepentingan hadiah sebagai pengikat jiwa. Sikap mementingkan diri sehingga membiarkan ibu bapa hidup susah di sebalik kemewahan seorang anak sememangnya menunjukkan sifat tidak mengenang budi. Jika boleh dihitung berapa juta ringgit yang mesti dibayar, sudah tentu jasa ibu bapa tak akan terbayar dengan sebarang jenis mata wang pun di dunia ini.
Tuesday, November 24, 2009
Taubat Seorang Hamba
Setiap manusia pasti pernah melakukan kesalahan. Mungkin ada yang sempat bertaubat dan mungkin ada yang tidak sempat. Hayatilah lirik lagu Taubat Seorang Hamnba daripada kumpulan Irsyadee ini.
(Part Hafiz)
Hati hiba mengenangkan dosa2 yg ku lakukan,
Oh Tuhan Maha Kuasa,
Terima taubat hamba berdosa...
(Part Irsyadee)
Ku akui kelemahan diri,
Ku insafi kekurangan ini,
Ku kesali kejahilan ini,
Terimalah 3x.....
Taubatku ini.....
(Part Irsyadee)
Telah aku merasakan derita jiwa dan perasaan,
Kerana hilang dari jalan menuju redhaMu ya Tuhan.
(Part Irsyadee)
Ku akui kelemahan ini,
Ku insafi kekurangan ini,
Ku kesali kejahilan ini,
Terimalah 3x...
Taubatku ini...
(Part Hafiz)
Di hamparan ini ku meminta moga taubatku diterima...
(Part Irsyadee)
Ku akui kelemahan ini,
Ku insafi kekurangan ini,
Ku kesali kejahilan ini,
Terimalah 3x....
Taubatku ini...
(Part Hafiz)
Ku akui kelemahan ini,
Ku insafi kekurangan ini,
Ku kesali kejahilan ini,
Terimalah 3x..
Taubatku ini...
(Part Hafiz)
Hati hiba mengenangkan dosa2 yg ku lakukan,
Oh Tuhan Maha Kuasa,
Terima taubat hamba berdosa...
(Part Irsyadee)
Ku akui kelemahan diri,
Ku insafi kekurangan ini,
Ku kesali kejahilan ini,
Terimalah 3x.....
Taubatku ini.....
(Part Irsyadee)
Telah aku merasakan derita jiwa dan perasaan,
Kerana hilang dari jalan menuju redhaMu ya Tuhan.
(Part Irsyadee)
Ku akui kelemahan ini,
Ku insafi kekurangan ini,
Ku kesali kejahilan ini,
Terimalah 3x...
Taubatku ini...
(Part Hafiz)
Di hamparan ini ku meminta moga taubatku diterima...
(Part Irsyadee)
Ku akui kelemahan ini,
Ku insafi kekurangan ini,
Ku kesali kejahilan ini,
Terimalah 3x....
Taubatku ini...
(Part Hafiz)
Ku akui kelemahan ini,
Ku insafi kekurangan ini,
Ku kesali kejahilan ini,
Terimalah 3x..
Taubatku ini...
Subscribe to:
Comments (Atom)